Hit enter to search or ESC to close

Between Worlds: Cerita Dua Pelukis Hebat Asia Tenggara Diulang Lagi di Singapura

Published 30 November 2017 16:17 by Dwi Ariyani

KapanLagiKeSingapura.com - Di masa penjajahan kolonial Belanda, ada sebuah kisah menarik tentang ‘perjuangan’ dua pemuda. Masing-masing berasal dari Indonesia dan Filipina, yang menyeberangi samudera luas untuk sampai ke Eropa, demi impian mereka untuk menjadi seniman kelas dunia. Mereka adalah Raden Saleh dan Juan Luna.

Nama pertama pasti tidaklah asing di telinga pecinta seni Indonesia. Dia adalah seorang bangsawan, yang bisa dikatakan sebagai seniman modern pertama Indonesia. Karya-karyanya sering bercerita tentang romantisme. Kebetulan, di saat Raden Saleh menjadi pelukis ternama, Eropa pun sedang demam lukisan-lukisan bertema romantisme. Sebuah kebetulan yang membuat Raden Saleh sangat terkenal di Benua Biru tersebut.

Tak heran kalau Raja Willem III dari Belanda sampai menyebutnya dengan nama ‘King’s Painter’ sebagai kekagumannya terhadap karya-karya Raden Saleh. Ia juga sangat diterima di Belanda untuk memperdalam ilmu melukisnya. Karya-karyanya kebanyakan bertema hewan dan digambarkan dengan sempurna. Misalnya, Boschbrand, tahun 1849, sebuah gambaran yang dramatis dari hewan-hewan yang mencoba melarikan diri dari kebakaran hutan. Ada pula Six Horsemen Chasing Deer, tahun 1860, yang menggambarkan perjuangan para penunggang kuda saat berburu rusa.

Russell Storer berbicara tentang lukisan Six Horeemen Chasing Deer karya Raden Saleh.

Sementara nama kedua mungkin jarang didengar karena berasal dari luar negeri. Dia adalah Juan Luna, pelukis yang memelajari seni lukis dari Madrid sampai Roma. Ia dibimbing oleh pelukis kenamaan dari Spanyol, Alejo Vera. Dua lukisan ternamanya adalah Spoliarium, tahun 1884, dan Cleopatra, tahun 1881, tentang kematian Ratu Mesir yang menentukan arah sejarah dunia, Cleopatra.

Russell Storer bercerita tentang Cleopatra, lukisan karya seniman Filipina, Juan Luna.

Untuk mengenang kedua pelukis besar ini, National Gallery Singapore akan menggelar pameran bertajuk, “Between Worlds: Raden Salen and Juan Luna,” yang digelar sejak 16 November lalu. Sebuah eksibisi pertama yang kembali mempertemukan kedua pemuda Asia Tenggara ini. Lukisan-lukisannya dipinjam dari koleksi publik di museum, sampai milik pribadi. Lebih dari 100 lukisan akan dibawa ke Galeri Nasional Singapura untuk mengingatkan kembali kehebatan dua maestro lukisan ini.

Russell Store, Wakil Direktur, Kuratorial & Koleksi dari National Gallery Singapore mengatakan bahwa banyak koleksi Raden Saleh dan Juan Luna yang tersebar di museum-museum di seluruh dunia.

“Kami bekerja sama dengan museum-museum tersebut, berikut dengan para kolektor-kolektor, perpustakaan, dan kantor arsip. Dengan dukungan mereka, kami mampu mewujudkan pameran yang kaya dan megah, yang akan membuat pengunjung bisa memahami perjalanan kehidupan dan karir Raden Saleh dan Juan Luna, serta untuk mengingat betapa besar pengaruh yang telah mereka berikan dalam dunia seni di Eropa serta Asia Tenggara.”

Direktur National Gallery Singapore, Dr. Eugene Tan mengatakan bahwa pameran Between Worlds ini adalah sebuah komitmen dari mereka agar dunia lebih memahami seni dari Asia Tenggara.

Selain lukisan karya Raden Saleh dan Juan Luna, ada banyak karya seni tak ternilai lainnya yang ada di National Gallery Singapore ini. Salah satunya adalah Lukisan The Magpie, bikinan pelukis ulung asal Perancis, Claude Monet. Jadi selain menghadiri eksibisi Betwees Worlds, ada banyak alasan lain untuk mengunjungi museumnya masyarakat Singapura ini.

Paul Perrin berbicara tentang lukisan Claude Monet yang berjudul The Magpie.

Buat kamu yang ngaku cinta seni, pameran Between Worlds tak boleh dilewatkan begitu saja. Segera kunjungi National Gallery Singapore untuk menyaksikan kehebatan Raden Saleh dan Juan Luna, dua pelukis hebat Asia Tenggara yang mampu mengguncang dunia dengan karya-karya mereka.

 

"Singapura adalah destinasi di mana kamu dapat mewujudkan impian. Kini saatnya untuk tak sekadar hadir di acara seni budaya, dan jadilah Para Pembentuk Kebudayaan."